Semua Pasti Berlalu

Posted: June 19, 2011 in Renungan Hari ini

Seorang petani kaya raya meninggal dunia, dia meninggalkan dua orang putra. Sepeninggal sang ayah, kedua anak petani itu bertengkar, mereka saling berebut harta peninggalan ayahnya. Semua harta yang ada habis dibagi keduanya sampai mereka menemukan satu kotak tua yang disimpan ayahnya. Mereka membuka kotak itu dan ternyata didalamnya ada 2 buah cincin. Cincin yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian sedangkan yang satunya lagi terbuat dari perunggu yang tidak berharga. Kemudian muncullah rasa keserakahan sang kakak sembari berkata pada adiknya”cincin ini pasti bukan milik ayah, ini pasti cincin peninggalan nenek moyang kita, aku sebagai anak tertua akan menyimpan cincin emas ini”. Sang adik menurut saja apa yang dikatakan sang kakak. merekapun mengenakan cincin itu dan meninggalkan tempat itu. Didalam hati, sang adik bertanya-tanya, “mengapa ayah menyimpan cincin perunggu ini? ini cincin yang tak berharga. Tapi kemudian matanya tertuju pada tulisan yang ada dibalik cincin itu, dia membacanya dalam hati “Semua pasti berlalu” oh ini pasti mantra ayah, katanya sambil berlalu dari tempat itu.
Hari berlalu, Bulan tahun berganti, sang kakak menjalani kehidupannya sebagai petani sama seperti ayahnya. Hidupnya penuh dengan kemewahan karena panennya berhasil, dia selalu berfoya-foya, mabuk-mabukan bahkan menggunakan obat terlarang. waktupun berlalu, tiba saatnya panen tidak sebagus sebelumnya, bahkan lebih buruk, dia gagal panen. Hatinya tak karuan, jadi goncang seakan tidak mau menerima keadannya. Dan pada saat semua hartanya habis untuk memenuhi hasrat berfoya-foyanya dia menjual cincin emas bertahtakan berlian itu.
Begitu pula sang adik juga merasakan pasang surutnya kehidupan, ada kalanya panennya bagus, tapi dia tidak berfoya-foya seperti kakaknya, dia selalu ingat tulisan yang ada dibalik cincin perunggu itu” semua pasti berlalu”. Dia selalu berfikir kapanpun waktunya entah pada saat senang maupun susah semua pasti berlalu. hatinyapun menjadi tenang, dia hidup dengan tentram bersama keluarganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s